“Green Networks” : Teknologi Ramah Lingkungan Berbasis Virtualisasi
Teknologi saat ini seharusnya dapat memenuhi kaidah ramah lingkungan yang disebut sebagai Green Technology, jika diimplementasikan dalam model infrastruktur jaringan disebut sebagai Green Network. Jaringan ini dikembangkan agar dapat memenuhi kriteria penggunan sumberdaya yang seminimal mungkin (low power consumption, low resources dan low cost) namun tetap memiliki kinerja yang dan utilisasi yang optimal untuk memenuhi kebutuhan dari user. Selama ini pada umumnya dalam skala enterprise, setiap server dalam network didedikasikan hanya menjalankan satu peran sehingga berakibat sebuah server penggunaannya sangat rendah dan hanya berkisar 10% - 20%. Keadaan seperti ini tidak ideal jika dibandingkan dengan nilai investasi yang cukup besar untuk pengadaan sebuah mesin server. Untuk itu perlu diimplementasi sebuah teknologi virtual yang memanfaatkan sumber daya server secara maksimal diharapkan tidak menurunkan skalabilitasnya. Dalam hal ini perlu dilakukan pengukuran terhadap penggunaan sumber daya perangkat keras, overhead, linearitas, dan isolasi kinerja untuk mengetahui skalabilitas server virtual dalam suatu network.Banyak skenario yang dapat diterapkan untuk menguji hal ini, salah satunya adalah menggabungkan tiga server yang merepresentasikan server farm ke dalam satu mesin fisik, selanjutnya server dihubungkan ke jaringan yang memiliki beberapa workstation. Pengukuran penggunaan sumber daya perangkat keras dilakukan dengan monitor sistem terhadap penggunaan memory, prosesor dan trafik jaringan. Sedangkan dari sisi skalabilitas sistem dilakukan pengukuran terhadap parameter-parameter overhead, linearitas dan isolasi kinerja, serta skalabilitas server virtual pada network yang ditinjau juga dari sisi efisiensi penggunaan sumber dayanya. Dalam era globalisasi, teknologi informasi jaringan komputer akan memegang peranan yang sangat menentukan dalam kompetisi di dunia mendatang. Sebuah infrastruktur yang dibangun dengan virtualisasi yang ditata dengan baik akan menghasilkan biaya yang lebih rendah, tingkat pelayanan yang lebih tinggi, dan kecerdasan yang lebih baik. Secara spesifik manfaat-manfaat tersebut diperoleh salah satunya dari konsolidasi server yang memiliki beberapa fitur penting diantaranya adalah support sistem operasi yang lebih luas, konversi physical-to-virtual (P2V), konversi Virtual-to-Virtual (V2V), Quick Migration, alokasi sumber daya CPU, dan alokasi sumber daya memory.
Pengertian Virtualisasi dalam lingkungan IT secara esensial melakukan isolasi terhadap satu sumber daya komputasi dengan yang lainnya. Dengan memisahkan layer-layer yang berbeda dalam logic stack dimungkinkan fleksibilitas yang lebih tinggi karena tidak diperlukan lagi konfigurasi tiap-tiap elemen untuk dapat bekerja bersama-sama. Salah satu jalan yang paling baik untuk memahami virtualisasi adalah dengan melihat ke mesin virtual. Pada mesin virtual, sistem operasi dan aplikasi dikemas bersama-sama untuk selanjutnya dilakukan hosted pada server fisikal yang menjalankan sistem operasi host atau virtual layer. Virtual layer adalah sebuah layer perangkat lunak tipis yang menyediakan basic interface dengan perangkat keras. Konsep terpenting untuk memudahkan pemahaman adalah bahwa mesin virtual (OS+Aplikasi) dioperasikan secara independen dari OS pada server fisikal seakan-akan berada pada discrete hardware-nya sendiri. Hal ini memungkinkan beberapa mesin virtual dijalankan pada sebuah server fisikal.
Dasar pemikiran mesin virtual ini makin jelas ketika dilakukan pengamatan terhadap beban kerja yang umumnya hanya menggunakan beberapa bagian dari keseluruhan kemampuan perangkat keras. Dengan menyesuaikan beban kerja yang saling melengkapi dalam kaitannya dengan processing dan penggunaan memory, jumlah server fisikal yang dibutuhkan untuk mendukung operasional bisnis dapat dikurangi. Secara tipikal ratio penggunaan server hanya berkisar 15% dimana 85% dari
kapasitas server tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Dengan meningkatkan ratio penggunaan menjadi 60% berarti terjadi pengurangan sebanyak empat kali dari kebutuhan space, perangkat keras, electrical cost powering dan pendinginan.
kapasitas server tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Dengan meningkatkan ratio penggunaan menjadi 60% berarti terjadi pengurangan sebanyak empat kali dari kebutuhan space, perangkat keras, electrical cost powering dan pendinginan.
Virtualisasi Server
Teknologi virtualisasi server memungkinkan beberapa sistem operasi server berjalan di satu mesin fisik yang sama. Tujuan utama penggunaan teknologi ini adalah fungsi infrastruktur yang dapat diandalkan dan memungkinkan penggunaan yang maksimal dari sebuah mesin server. Kebutuhan akan penggunaan infrastruktur yang maksimal diperlukan karena biasanya dalam skala enterprise, satu server didedikasikan hanya untuk satu peran saja. Dengan demikian sering kali terjadi sebuah server penggunaannya hanya 10%. Hal ini tentu saja tidak efektif, terutama apabila investasi yang telah dikeluarkan untuk membeli mesin tersebut cukup besar.
Konsep virtualisasi memungkinkan beberapa server berjalan diatas satu mesin. Hal ini menurunkan space yang dibutuhkan oleh server dan memaksimalkan penggunaan server. Setiap peran dapat berjalan di sebuah lingkungan virtual yang terisolasi sehingga relatif lebih aman dan mudah untuk diatur. Bila salah satu server down, maka administrator cukup mematikan server tersebut dan menyalakan cadangannya. Semudah melakukan aktivitas copy dan paste. Implementasi virtualisasi dapat menekan down time secara drastis. Salah satu konsep virtualisasi seperti yang ditawarkan oleh Microsoft Windows Server 2008 memperkenalkan Hypervisor yang mengadopsi konsep microkernelized dan langsung terintegrasi dengan peran server. Implementasi dari microkernelized memungkinkan sebuah instance mesin virtual berperan sebagai partisi host dan instance yang lain sebagai partisi guest. Semua instance mesin virtual akan berjalan diatas hypervisor.
Virtualisasi Infrastruktur
Virtual infrastruktur mewakili sumber daya fisikal dari keseluruhan IT environment, berupa sejumlah computer x86, network yang terhubung dan media penyimpanan yang tergabung menjadi sumber daya IT. Secara struktural, virtual infrastruktur terdiri dari beberapa komponen yaitu :
1. Bare-metal hypervisors yang memungkinkan virtualisasi secara utuh untuk setiap computer x86.
2. Servis virtual infrastruktur yang disediakan seperti management sumber daya dan konsolidasi backup memaksimalkan sumber daya yang ada pada mesin virtual.
3. Solusi otomasi yang menyediakan kemampuan khusus untuk mengoptimalkan proses IT tertentu seperti provisioning dan disaster recovery.
1. Bare-metal hypervisors yang memungkinkan virtualisasi secara utuh untuk setiap computer x86.
2. Servis virtual infrastruktur yang disediakan seperti management sumber daya dan konsolidasi backup memaksimalkan sumber daya yang ada pada mesin virtual.
3. Solusi otomasi yang menyediakan kemampuan khusus untuk mengoptimalkan proses IT tertentu seperti provisioning dan disaster recovery.
Dengan menyatukan seluruh environment software dari infrastruktur perangkat keras yang mendasarinya, virtualisasi memungkinkan agregasi beberapa server, infrastruktur penyimpanan dan jaringan menjadi bagian yang saling berbagi sumberdaya untuk dapat disampaikan secara dinamis, aman dan diandalkan sesuai dengan kebutuhan. Pendekatan ini memungkinkan organisasi membangun infrastruktur komputasi dengan pemanfaatan yang maksimal, ketersediaan, otomatisasi dan fleksibilitas menggunakan perencanaan yang efektif sesuai standar industry server.
Alokasi Sumber Daya Virtual
Teknologi Virtualisasi memungkinkan penghematan biaya perangkat keras dengan memperbaiki penggunaan sumber daya server pada network karena beberapa mesin virtual menggunakan fisikal server yang sama. Sehubungan dengan hal tersebut dibutuhkan konfigurasi sistem operasi host dan sistem operasi guest yang mengatur penggunaan sumber daya secara efisien namun tidak mempengaruhi kinerjanya. Metode alokasi sumber daya yang dapat digunakan bervariasi bergantung kepada perangkat lunak virtualisasi yang digunakan.
Metodologi Implementasi Virtualisasi
Secara garis besar, metodologi yang digunakan untuk melakukan perancangan dan implementasi teknologi virtual pada Local Area Network (LAN) adalah dimulai dengan perencanaan topologi LAN server virtual, kebutuhan perangkat lunak dan perangkat keras yang digunakan dalam implementasi, instalasi, koneksi jaringan, konfigurasi, dan persiapan pengujian. Skenario yang akan digunakan adalah menggabungkan tiga server virtual ke dalam satu server fisikal yang berisi mesin-mesin virtual sebagai implementasi masing-masing server pada jaringan tradisional dan beberapa tambahan mesin virtual lainnya. Model topologi jaringan tradisional yang digunakan pada pengujian terdiri dari tiga buah komputer yang berfungsi sebagai server dan dihubungkan dengan empat workstation melalui hub dengan perantaraan kabel RJ 45. Masingmasing server menjalankan peran yang berbeda yaitu server A berfungsi sebagai active directory (AD), server B berfungsi database server, dan server C berfungsi sebagai mail server.
Terdapat beberapa pilihan yang dapat dilakukan untuk mengatur sumber daya CPU yaitu:
1. Memilih jumlah logical processor yang dialokasikan bagi mesin virtual. Logical processors melakukan mirroring terhadap jumlah fisikal cores yang dipasang pada mesin. Contohnya, pada server yang memiliki empat processor cores hanya dipetakan satu logical processor ke mesin virtual meskipun mesin dapat lebih menguntungkan jika memiliki multiple logical processors. Pertimbangannya adalah jika server tersebut melakukan host terhadap tiga mesin virtual yang berbeda maka dialokasikan sebuah CPU core untuk sistem operasi host dan masing-masing mesin virtual.
1. Memilih jumlah logical processor yang dialokasikan bagi mesin virtual. Logical processors melakukan mirroring terhadap jumlah fisikal cores yang dipasang pada mesin. Contohnya, pada server yang memiliki empat processor cores hanya dipetakan satu logical processor ke mesin virtual meskipun mesin dapat lebih menguntungkan jika memiliki multiple logical processors. Pertimbangannya adalah jika server tersebut melakukan host terhadap tiga mesin virtual yang berbeda maka dialokasikan sebuah CPU core untuk sistem operasi host dan masing-masing mesin virtual.
2. Menentukan persentase sumber daya CPU bagi mesin virtual. Hal ini dilakukan pada mesin virtual yang menjalankan aplikasi CPU secara intensif sehingga bisa dipastikan bahwa mesin virtual selalu memiliki paling sedikit tingkatan minimal sumber daya CPU yang dapat digunakan olehnya.
3. Pembatasan mesin virtual yang menjaga agar tidak menggunakan sumber daya CPU secara berlebihan. Hal ini bertolak belakang dengan poin 2 di atas. Pada server dengan empat processor cores dilakukan konfigurasi pada masing-masing mesin virtual untuk dapat menggunakan hingga 100% sumber daya CPU yang telah diasosiasikan dengan satu dengan satu logik processor. Oleh karena terdapat empat logikal processor pada mesin maka pengaturan ini menggunakan 25% dari total sumber daya CPU mesin.
4. Menentukan bobot relatif penggunaan mesin virtual. Dasar pemikirannya adalah mesin virtual dengan bobot relatif lebih tinggi akan menerima lebih banyak CPU time, dan mesin virtual dengan bobot relatif lebih rendah akan menerima lebih sedikit CPU time. Namun jika tidak diperlukan perlakuan khusus bagi setiap mesin virtual maka dapat dialokasikan CPU time yang sama.
Beberapa parameter yang berperan dalam menentukan skalabilitas sistem server virtual ialah terdiri dari overhead, linearitas dan isolasi kinerja yang dilakukan pada kondisi tertentu.
• Overhead
Overhead diukur dengan kondisi pada satu waktu baik server tradisional dan server virtual hanya ada satu proses yang berjalan. Overhead yang terjadi pada single VM masih bisa diabaikan, namun terjadi degradasi kinerja seiring dengan bertambahnya jumlah mesin virtual yang aktif.
• Linearitas
Perhitungan berdasarkan hasil pengukuran menunjukkan untuk linearitas normal waktu eksekusi meningkat sebanding dengan jumlah mesin virtual yang dijalankan pada waktu yang bersamaan. Kondisi ini berlaku pula pada server tradisional.
• Isolasi Kinerja
Sebuah mesin virtual melakukan isolasi terhadap fisikal mesin yang berada dibawahnya secara efisien. Sistem virtual secara eksplisit melakukan implementasi mekanisme penggunaan bersama yang dilakukan secara adil untuk memastikan adanya isolasi kinerja diantara mesin-mesin virtual.
• Penggunaan maksimum sumber daya
Beban jaringan dan pertimbangan kinerja infrastruktur virtual sama dengan aspek-aspek yang mempengaruhi jaringan fisikal, meliputi pola dan intensitas trafik jaringan, implementasi dan konfigurasi stack jaringan, ketersediaan sumber daya
komputasi untuk melakukan proses transaksi jaringan, dan aspek fisik jaringan.
komputasi untuk melakukan proses transaksi jaringan, dan aspek fisik jaringan.







0 komentar:
Posting Komentar